Kelebihan dan Kekurangan Honda Tiger (berdasarkan pengalaman pribadi)

Tiap produk pastinya memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu pula dengan Sang Macan, setelah 4 tahun setia menemani gw, akhirnya gw menarik kesimpulan tentang kelebihan dan kekurangan berdasarkan pengalaman (sudah banyak yang mengupas artikel tentang ini namun gw tulis berdasarkan pengalaman pribadi), dimulai dari kekurangannya :

  1. Agak susah distarter di pagi hari (padahal Jupiter-Z 2009 kakak gw hanya sekali Start), Rajin servis, ganti oli (Oli Pertamina Enduro Racing), ganti pilot jet yang lebih besar, tapi hasilnya sama tetap susah Start di pagi hari.
  2. Leher Angsa (Manifold) rawan patah (material dari karet, lama-lama juga karetnya getas n patah)
  3. Teknologi jadul, masih karbu, pendingin udara, tanpa oil cooler, rangka sama dengan motor jaman 70an.
  4. Rantai berisik (penyakit yang paling melegenda). Dari jauh aja udah ketahuan nich motor dari bunyi rantainya. Solusinya gw ganti gir set Merk Sinnob (ada yang sarankan pake punya NMP Plug n Play di Tiger Revo, namun motor gw udah pake Monoshock so buritan nungging n rantai bisa gesek ARM kalu pake gir belakang yang diameternya lebih kecil dari standar).
  5. Tangki tipis n air rawan masuk lewat tutup tangki.
  6. Part aksesori jarang dibanding V-ixion n Byson (apalagi pasca discontinue).
  7. As Gear pendek, so ban belakang maksimal pake ukuran 120/70 (pake 130/70 kena gesek rantai, 140/70 harus miringkan setelan rantai) untuk mengaplikasikan ban tapak diatas 130/70 harus pake spacer gear (beda dengan Scorpio yang muat sampai 150/70).
  8. Diameter tabung Shockbreaker depan kecil banget (klu gak salah 31 mm) dibanding V-ixion (33 mm) apalagi Byson (41 mm).
    Jarak Tabung shock depan kiri n kanan mepet banget (muat lebar ban maksimal 110/70, padahal gw mau pasang yang lebih gede), solusinya ngumpulin dana untuk ganti Upside Down (gw malas bubut komstir n segitiga asli).
  9. Power kecil (powernya beda tipis dengan yang 150 cc).
  10. Footstep belakang jadul (kayak motor bebek aja)
  11. Aki standar hanya 7 ampere (Thunder 125 aja 10 A)
  12. Ban standar terlihat cungkring + velg 18” (Byson yang 150 cc aja bannya lumayan gede)
  13. Sein gampang oblak (penyakit semua motor laki)

Kelebihan Honda Tiger :

  1. Mesin bandel (udah teruji dengan basic mesin GL) dengan torsi yang lumayan gede.
  2. Posisi mengendara yang nyaman untuk jalan jauh dan jarak menegah.
  3. Gak boros2 amat untuk ukuran 200 cc.
  4. Mesin dari basis GL, gak pusing nyari bengkel yang bisa nanganin (di daerah gw bengkel bagus n pengalaman nyarinya susah lho).
  5. Jarak sumbu roda yang lumayan panjang sehingga dimodif model streetfigter sampai full fairing kelihatan gagah (beda dengan Mega Pro, yang jadi aneh kalu modif full fairing karena arm yang pendek jadinya ban belakang kelihatan tenggelam n terlalu dekat dengan as tengah)
  6. Kesannya orang awam lihat nich Macan, motor mahal, mewah, gagah, n berkelas (jangan dibandingkan dengan Ninin 250, n R25 beda kelas bro).
  7. Desain dan garis bodi yang menyatu dari depan sampai belakang (hanya opini pribadi, soal desain itu selera masing-masing)
  8. Meski berisik gir n rantainya (gak ada sambungan) sangat awet n gak meragukan pake touring.

Last, ada yang mau tambahkan????

Iklan

2 Tak Yang Makin Tak Kedengaran

Di eara pertengahan 90an siapa yang tak kenal line up bebek 2 tak Yamaha yang begitu mendominasi pasar 2 tak dan juga di sirkuit pasar senggol alias Road Race yang begitu hingar bingar pada jamannya (bahkan ngalahin serunya GP-500).
Dimulai dari lahirnya Force 1 (masih kalah mentereng dibanding Suzuki Tornado), kemudian Force-1 Z (F-1Z), kemudian The Real Champion di Kelas Underbone yakni F-1ZR (bahkan naik kelas di balapan 120 cc pun ngalahin Satria 120). Meski F-1ZR gantian dengan Suzi RG-Sport merajai kelas underbone 115 cc, namun RG-Sport adalah produk dari negeri Jiran yang tidak dipasarkan Suzuki di Indonesia.
Dari deretan motor bebek produksi pabrik garpu tala tersebut gw pernah punya Yamaha F1Z lansiran 1995 (Vernekel edition alias versi krom), bahkan nich bebek adalah yang paling setia dari semua motor yang pernah gw punya, nemanin gw mulai dari SMA sampai selesai kuliah taon 2006 (wahhh lama banget ya). Namun karena jaman udah berganti menuntut bebek ini juga pensiun meskipun gw masih suka (terpaksa disimpan di gudang).
Mungkin dari sobat-sobat pernah punya motor bebek 2 tak pastinya pernah ngerasain sensasi yang tak pernah dirasakan di motor 4 tak, yakni suara nyaring nan merdu membuat jari gatal untuk membejek gas lebih dalam, sentakan saat start  ketika kopling dilepas, meliuk-liuk lincah ditengah macetnya jalan perkotaan dan berbagai nostalgia lainnya..
Meski pun motor 2 stroke hampir tidak lagi diproduksi namun tak jarang yang menjadikannya motor koleksi, mungkin anak jaman sekarang nama  TZM, Touch, Tiara, 125 Z, Nova Dash, Tena, RK Cool, RGR, NSR, Kawasaki AR-125, dan Leo terdengar asing  tapi siapa yang tak kenal F1ZR, RX-King, dan Ninja 150 yang begitu melegenda.

yamaha_f1zr_3

Awal Kebersamaan Tiger Revolution

Awalnya gw gak tertarik pada motor yang satu ini, bentuknya yang bongsor dan membulat membuat gw gak minat padanya (Apalagi Motor ini udah ada dari jaman gw masih kecil), ya Honda Tiger… namax yang legendaris di kalangan bikers pecinta motorsport tetap gak membuat gw berpaling padanya. Namun seperti kata orang, jodoh tak kan kemana-mana..
Awalnya di tahun 2011 gw cari motorsport untuk seharian rumah – kantor, waktu itu gw amat tertarik sama Yamaha Byson yang lagi booming karena desainnya yang tampil beda pada masanya.. Setelah gw rasa tabungan cukup untuk meminangnya akhirnya gw ke dealer Yamaha (PT. Sinar Suri Manokwari) untuk meminang seekor Byson tersebut. Setelah cas.. cis.. cus.. dengan Customer Service Yamaha yang berparas manis akhirnya gw nunjuk Byson yang berkelir Hitam di brosur dengan pembayaran tunai… CS tersebut menyiapkan dokumennya sembari menjelaskan kalau pembayarannya dilakukan via bank, gw manggut-manggut aja sambil iseng nanya kira-kira Byson gw kapan bisa diantar…. jawaban CS tersebut tak ayal membuat gw kaget bukan main, “untuk Yamaha Bison yang bpk pesan inden 7 bulan dari sekarang” (yang artinya sampai 7 bulan kedepan pengiriman dari Main Dealer di Surabaya si Byson tersebut udah ada yang punya).
Akhirnya gw batalin pemesanannya, tp si mbak CS-nya gak putus asa nawari Vixion generasi 2 namun gw tolak (V-ixion bagus namun karena jadi motor sejuta umat jadi gak deh) n pulang dengan lesu… (sambil nenangin diri untuk lirik merk lain).
Besoknya gw ke Dealer Suzuki (dengan tak berharap banyak) dan  seperti yang udah gw bayangkan sebelumnya motorsport Suzuki di dealer hanya Thunder 125.. Tanpa merendahkan motor tersebut tapi Thunder 125 … oh tidak., bahkan motor jaman gw masih SMA tahun 90an (Yamaha F1Z) masih lebih bertenaga dari pada motor ini…
Karena Kawasaki udah nggak masuk hitungan (Ninja 150 gak banget soalnya daerah gw bensin susah, Ninja 250 budged gak cukup) So pilihan terakhir gw ke dealer Honda, Namun bukannya nemuin jodoh disana malah nemuin NMP (Saat itu CB150R belum lahir) yang gw rasa lebih cocoknya untuk bapak2, so lirik ke sebelahnya tinggal 1 pilihan.. ya itulah Sosok Sang Macan (Revolution Cruiser) yang legendaris, setelah sang macan gw pelototin abis mulai dari mata bulatnya sampe ke ekornya yang runcing kesannya bongsor n bulat emang ciri khasnya tapi gak apapa deh dari pada si NMP..

Akhirnya Gw mantapkan pilihan ke Sang Macan tersebut Namun tak dinyana setelah CS-nya Confirm harganya yang mencapai 30 juta (harga kota Manokwari) gw sempat mengernyitkan dahi.. wah nich macan apa gak over price ya?? Budged sich pas2an, tapi ongkos bawa ke kota tempat kerja kan juga lumayan (lewat kapal laut yang ongkos buruhnya mahal minta ampun).. Akhirnya tuk kedua kalinya pulang dengan kecewa…
So gak pantang menyerah gw sisir seluruh kota cari si Macan ke dealer motor second dengan perhitungan dapat Macan murah + uang sisa untuk modif.. akhirnya setelah berjibaku dengan teriknya matahari kota Manokwari gw berjumpa dengan jodoh gw Tiger Revolution lansiran 2007 yang artinya udah kepake 4 tahun ama pemilik lama, gak banyak nanya gw test ride langsung kena enaknya n langsung transaksi..
Dengan hati berbunga-bunga langsung bawa pulang Sang Macan n tanpa mandi langsung cari info di mbah Google part-part modifnya.. So langkah pertama ganti kaki kakinya :

  1. Velg standar Enkei 18” palang 3 gw gusur dengan Velg Rochell 2,75-17” dan 3,50-17”
  2. Penggunaan ban yang gak terlalu lebar untuk kenyamanan, Corsa S123 (depan 100/70, belakang 130/70 soalnya pake harian) yang kembangnya mirip Battlax BT-45 (ngirit) itu pun dengan konsekwensi bibir ban belakang bersinggungan dengan rantai (dari pada memiringkan setelan rantai yang beresiko saat cornering)
  3. Swing Arm lebar kumis + monoshock NSR 150 yang pemasangannya semuanya Plug n Play, Tanpa merubah apa pun dan tanpa las-lasan..
    (sampai jumpa di artikel berikut untuk ulasan sang macan dari mulai nakal jadi street fighter sampai Full fairing).tigerku standar  Street figter Photo0328

Tak terasa udah menginjak 2015, jadi Macan udan setia nemanin 4 tahun (2011 – 2015). Meski belum terlalu lama tapi 4 tahun juga bukan waktu yang pendek. Secara umum gw puas dengan performa dan kenyamanannya namun bukan berarti tidak memiliki kekurangan.. bahkan gw rasa Macan memiliki banyak kekurangan yang juga legendaris se legendaris namanya.. :